Rabu, 30 November 2011

metode ilmiah (PENGARUH LARUTAN DETERGENT TERHADAP KONDISI FISIK IKAN)














BAB 1
PENDAHULUAN

1.1              Latar Belakang
    Limbah merupakan kotoran yang dihasilkan karena pembuangan sampah atau zat kimia dari pabrik-pabrik. Limbah juga merupakan suatu bahan yang tidak berarti dan tidak berharga, tapi kita tidak mengetahui bahwa limbah juga bisa menjadi sesuatu yang berguna dan bermanfaat jika diproses secara baik dan benar. Limbah itu ada berbagai macam salah satunya adalah limbah pabrik. Limbah ini dikategorikan sebagai limbah yang berbahaya karena limbah ini mempunyai kadar gas yang beracun. Pada umumnya gas ini di buang ke sungai-sungai disekitar tempat tinggal masyarakat dan tidak jarang warga masyarakat mempergunakan sungai untuk kegiatan sehari-hari ,  misalnya MCK (Mandi, Cuci, Kaskus ) dan secara langsung gas yang dihasilkan oleh limbah pabrik tersebut dikonsumsi dan dipakai oleh masyarakat. Limbah ini mengandung zat yang berbahaya diantaranya asam anorganik dan senyawa organic zat-zat tersebut jika masuk ke perairan maka akan menimbulkan pencemaran yang dapat membahayakan makhluk hidup pengguna air tersebut misalnya ikan, bebek, dan makhluk hidup lainnya.
           
1.2              Identifikasi Masalah
            Berdasarkan paparan latar belakang diatas permasalahan yang muncul akibat limbah rumah tangga (larutan detergen) adalah sebagai berikut :
   1. Pencemaran lingkungan
   2. Ancaman kehidupan biotic laut mati.

1.3 Pembatasan Masalah
Penelitian yang dilakukan oleh kelompok kami yaitu pengaruh larutan detergen terhadap kondisi fisik ikan. Penelitian dilakukan selain untuk memenuhi tugas yang diberikan guru bidang study IPA kepada kelompok kami juga untuk mengetahui pengaruh larutan air detergen tersebut terhadap kondisi fisik ikan .

1.4  Perumusan Masalah
Sehubungan dengan latar belakang yang telah kami jelaskan diatas maka kami
merumuskan masalah sebagai berikut :

Ø  Bagaimana pengaruh detergen terhadap kondisi fisik ikan ?





1.5  Tujuan Penelitian
Berdasarkan Rumusan Masalah diatas, maka penulis menyusun tujuan sebagai berikut :
1.      Mengetahui bagaimana pengaruh larutan detergen terhadap fisik ikan.
2.      Sebagai wahana melatatih mengungkapkan pemikiran atau hasil penelitiannya dalam bentuk tulisan ilmiah yang sistematis dan metodologis.
3.      Menumbuhkan etos ilmiah dikalangan siswa sehingga tidak hanya menjadi konsumen ilmu pengetahuan, tetapi juga mampu menjadi penghasil  (produsen) pemikiran dan karya tulis dalam bidang ilmu pengetahuan, terutama setelah penyelesaian studynya.
4.      Melatih keterampilan dasar untuk penelitian.
1.6  Manfaat Penelitian
Manfaat dari metode ilmiah dengan tema Pengaruh Larutan Detergen Terhadap Kondisi Fisik Ikan ini diharapkan dapat menjadi bahan informasi bagi para pembaca. Selain itu manfaat penyusun karya ilmiah bagi penulis adalah sebagai berikut :
1.      Melatih untuk mengembangkan keterampilan membaca efektif
2.      Melatih untuk menggabungkan bacaan dari berbagai sumber
3.      Mengenalkan dengan kegiatan kepustakaan
4.      Meningkatkan pengorganisasian fakta atau data secara jelas dan sistematis.
5.      Memperoleh kepuasan intelektual.




















BAB II
LANDASAN TEORI

            2.1 Penelaahan Kepustakaan
                       
a.       Pengertian Detergent
                        Deterjen adalah campuran berbagai bahan, yang digunakan untuk membantu pembersihan dan terbuat dari bahan-bahan turunan minyak bumi. Dibanding dengan sabun, deterjen mempunyai keunggulan antara lain mempunyai daya cuci yang lebih baik serta tidak terpengaruh oleh kesadahan air. Detergen merupakan garam Natrium dari asam sulfonat.
garam_natrium
Rantai hidrokarbon, R, di dalam molekul sabun di atas mungkin adalah rantai hidrokarbon yang lurus atau rantai hidrokarbon yang bercabang.
  gambar_17_!
Detergen sudah sangat akrab di kehidupan kita, terutama bagi ibu rumah tangga. Detergen digunakan untuk mencuci pakaian. Untuk menyempurnakan kegunaannya, biasanya pabrik menambahkan Natrium Perborat, pewangi, pelembut, Naturium Silikat, penstabil, Enzim, dan zat lainnya agar fungsinya semakin beragam. Tapi diantara zat-zat tersebut ada yang tak bisa dihancurkan/dilarutkan oleh mikroorganisme sehingga otomatis menyebabkan pencemaran lingkungan. Apabila air yang mengandungi detergen dibuang ke dalam air, tercemarlah air dan pertumbuhan Alga yang sangat cepat. Hal ini akan menyebabkan kandungan oksigen dalam air berkurangan dan otomatis ikan, tumbuhan laut, dan kehidupan air lainnya mati.Selain itu limbah Detergen juga menyebabkan pencemaran tanah yang menurunkan kualitas kesuburan tanah yang mengakibatkan tanaman serta hidupan tanah termasuk cacing mati. Padahal cacing bisa menguraikan limbah organik, non organik & menyuburkan tanah.
Bahan utamanya ialah garam natrium yaitu asam organik yang dinamakan asam sulfonik. Asam sulfonik yang digunakan dalam pembuatan detergen merupakan molekul berantai panjang yang mengandungi 12 hingga 18 atom karbon per molekul.
Detergen pertama disintesis pada tahun 1940-an, yaitu garam natrium dari alkyl hydrogen sulfat. Alkohol berantai panjang dibuat dengan cara penghidrogenan lemak dan minyak.
Alkohol berantai panjang ini direaksikan dengan asam sulfat menghasilkan alkil hydrogen sulfat yang kemudian dinetralkan dengan basa.
Natrium lauril sulfat adalah detergen yang baik. Karena garamnya berasal dari asam kuat, larutannya hampir netral. Garam kalsium dan magnesiumnya tidak mengendap dalam larutannya, sehingga dapat dipakai dengan air lunak atau air sadah. Pada masa kini, detergen yang umum digunakan adalah alkil benzenasulfonat berantai lurus. Pembuatannya melalui tiga tahap. Alkena rantai lurus dengan jumlah karbon 14-14 direaksikan dengan benzena dan katalis Friedel-Craft (AlCl3 atau HF) membentuk alkil benzena. Sulfonasi dan penetralan dengan basa melengkapi proses ini.
Rantai alkil sebaiknya tidak bercabang. Alkil benzenasulfonat yang bercabang bersifat tidak dapat didegradasi oleh jasad renik (biodegradable). Detergen ini mengakibatkan masalah polusi berat pada tahun 1950-an, yauti berupa buih pada unit-unit penjernihan serta disungai dan danau-danau. Sejak tahun 1965, digunakan alkil benzenasulfonat yang tidak bercabang. Detergen jenis ini mudah didegradasi secara biologis oleh mikroorganisme dan tidak berakumulasi dilingkungan kita.
rantai_alkil

b.      Sistematika dan Morfologi

Ahli perikanan Dr. A.L Buschkiel dalam RO. Ardiwinata (1981) menggolongkan jenis ikan karper menjadi dua golongan, yakni pertama, jenis-jenis karper yang bersisik normal dan kedua, jenis kumpai yang memiliki ukuran sirip memanjang. Golongan pertama yakni yang bersisik normal dikelompokkan lagi menjadi dua yakni pertama kelompok ikan karper yang bersisik biasa dan kedua, bersisik kecil.
Sedangkan Djoko Suseno (2000) mengemukakan, berdasarkan fungsinya, ras-ras ikan karper yang ada di Indonesia dapat digolongkan menjadi dua kelompok. Kelompok pertama merupakan ras-ras ikan konsumsi dan kelompok kedua adalah ras-ras ikan hias.
Ikan karper sebagai ikan konsumsi dibagi menjadi dua kelompok yakni ras ikan karper bersisik penuh dan ras ikan karper bersisik sedikit. Kelompok ras ikan karper yang bersisik penuh adalah ras-ras ikan karper yang memiliki sisik normal, tersusun teratur dan menyelimuti seluruh tubuh. Ras ikan karper yang termasuk ke dalam kelompok ini adalah ikan karper majalaya, ikan karper punten, ikan karper si nyonya dan ikan karper merah atau mas. Sedangkan yang tergolong dalam ras karper bersisik sedikit adalah ikan karper kaca yang oleh petani di Tabanan biasa disebut dengan nama karper gajah. Untuk kelompok ras ikan karper hias, beberapa di antaranya adalah karper kumpay, kaca, mas merah dan koi.
Secara morfologis, ikan karper mempunyai bentuk tubuh agak memanjang dan memipih tegak. Mulut terletak di ujung tengah dan dapat disembulkan. Bagian anterior mulut terdapat dua pasang sungut berukuran pendek. Secara umum, hampir seluruh tubuh ikan karper ditutupi sisik dan hanya sebagian kecil saja yang tubuhnya tidak ditutupi sisik. Sisik ikan karper berukuran relatif besar dan digolongkan dalam tipe sisik sikloid berwarna hijau, biru, merah, kuning keemasan atau kombinasi dari warna-warna tersebut sesuai dengan rasnya.
    *Sejarah Perkembangannya di Indonesia
Menurut Djoko Suseno (2000), di Indonesia pertama kali ikan karper berasal dari daratan Eropa dan Tiongkok yang kemudian berkembang menjadi ikan budi daya yang sangat penting.
Sementara itu, menurut R.O Ardiwinata, (1981) ikan karper yang berkembang di Indonesia diduga awalnya berasal dari Tiongkok Selatan. Disebutkan, budi daya ikan karper diketahui sudah berkembang di daerah Galuh (Ciamis) Jawa Barat pada pertengahan abad ke-19. Masyarakat setempat disebutkan sudah menggunakan kakaban - subtrat untuk pelekatan telur ikan karper yang terbuat dari ijuk – pada tahun 1860, sehingga budi daya ikan karper di kolam di Galuh disimpulkan sudah berkembang berpuluh-puluh tahun sebelumnya.Sedangkan penyebaran ikan karper di daerah Jawa lainnya, dikemukakan terjadi pada permulaan abad ke-20, terutama sesudah terbentuk Jawatan Perikanan Darat dari “Kementrian Pertanian” (Kemakmuran) saat itu.
Dari Jawa, ikan karper kemudian dikembangkan ke Bukittinggi (Sumatera Barat) tahun 1892. Berikutnya dikembangkan di Tondano (Minahasa, Sulawesi Utara) tahun 1895, daerah Bali Selatan (Tabanan) tahun 1903, Ende (Flores, NTT) tahun 1932 dan Sulawesi Selatan tahun 1935. Selain itu, pada tahun 1927 atas permintaan Jawatan Perikanan Darat saat itu juga mendatangkan jenis-jenis ikan karper dari Negeri Belanda, yakni jenis Galisia (karper gajah) dan kemudian tahun 1930 didatangkan lagi karper jenis Frankisia (karper kaca). Menurut Djoko Suseno (2000), kedua jenis karper tersebut sangat digemari oleh petani karena rasa dagingnya lebih sedap, padat, durinya sedikit dan pertumbuhannya lebih cepat dibandingkan ras-ras lokal yang sudah berkembang di Indonesia sebelumnya.Pada tahun 1974, seperti yang dikemukakan Djoko Suseno (2000), Indonesia mengimpor ikan karper ras Taiwan, ras Jerman dan ras fancy carp masing-masing dari Taiwan, Jerman dan Jepang. Sekitar tahun 1977 Indonesia mengimpor ikan karper ras yamato dan ras koi dari Jepang. Ras-ras ikan karper yang diimpor tersebut dalam perkembangannya ternyata sulit dijaga kemurniannya karena berbaur dengan ras-ras ikan karper yang sudah ada di Indonesia sebelumnya sehingga terjadi persilangan dan membentuk ras-ras baru.
2.2 Perumusan Hipotesis
            Ho = Tidak ada pengaruh larutan detergent terhadap kondisi fisik ikan.
            Ha  =  Ada pengaruh larutan detergent terhadap kondisi fisik ikan.

















BAB III
METODOLOGI PENELITIAN

3.1 Tempat dan waktu penelitian
            A. Tempat
                Eksperimen dilakukan dirumah peneliti (siswa).
        B. Waktu
            Eksperimen dilakukan mulai dari tanggal 16-19 November 2011. Pada pukul             
           09.00-09.15.

3.2  Metode Penelitian
            * Eksperimen atau Metode Penelitian
3.3 Alat dan Bahan
            * Bahan :
·         Detergent
·         Ikan 2
·         Air bersih
* Alat :
·         1 toples berisi air bersih
·         1 toples berisi larutan detergent
3.4 Cara Kerja :
Ø  Sediakan 2 buah toples, 1 berisi air bersih dan berisi larutan detergent 1.
Ø  Masukan 1 ikan ke dalam toples yang berisi air detergent dan satu ikan ke dalam air bersih.
Ø  Lihat perkembangan kondisi fisik ikan hingga terjadi perubahan.
Ø  Buat laporan atas terjadinya perubahan yang terjadi pada fisik ikan/

3.5 Populasi dan Sampel
            * Populasi : Semua jenis ikan
            * Sampel  : Ikan Jaer

3.6 Teknik Pengumpuan Data
            * Data Kualitatif







BAB IV
HASIL PENELITIAN

4.1              Deskripsi Data

No
Ikan
Larutan Detergent
Air tawar
jam
Kondisi fisik ikan
1 sendok teh
2 sendok teh
1
Ikan  1
ü   
-
-
09.00-09.15
Mata merah
2
Ikan 2
-
ü   
-
09.00-09.15
Keluar darah dari insang..
3
Ikan 3
-
-
ü   
09.00-09.15
Normal
4









Photo0659.jpg







          Gambar ikan air tawar

4.2              Perubahan Analisis Data
Berdkasarkan data pada tabel diatas dikatakan terjadi perubahan
terhadap kondisi fisik ikan yang menyebabkan keluar darah dari insang dan akan berpengaruh bila memakai larutan detergent.


 



BAB V
PENUTUP

5.1              K esimpulan
    Jadi dapat penulis simpulkan bahwa larutaan detergent sangat berpengaruh sekali terhadap kondisi fisik ikan yang dapat menyebabkan ikan tersebut melemah bahkan hingga mati.
5.2              Implikasi
     Dampak dari kondisi tesebut maka akan menyebabkan populasi ikan-ikan disungai berkurang.
5.3              Saran
     Saran yang ingin disampaikan penulis kepada pembaca yaitu :
Ø  Jangan terlalu banyak menggunakan limbah rumah tangga (larutan detergen) karna sangat berpengaruh terhadap biotic air.  
Ø  Untuk para peneliti selanjutnya di harapkan dapat membuah kan hasil yang lebih baik dari sebelumnya

1 komentar: